KK untuk Registrasi SIM Seluler, Amankah?

October 28, 2017

Saya mencoba rasional dan objektif dalam memahami dan menganalisa kebijakan pemerintah terkait registrasi atau lebih tepatnya re-registrasi kartu prabayar yang digunakan para pengguna perangkat seluler.

Kesan pertama yang muncul dalam hasil analisa saya adalah kesan postif; bahwa kebijakan ini setidaknya dapat mengurangi penyalahgunaan teknologi komunikasi seluler yang sering dijumpai dalam bentuk penipuan. Namun jika ditelisik lebih mendalam, justru disinilah masalahnya.

  • Pihak terkait dengan pengambilan kebijakan ini tidak memiliki parameter yang jelas, siapa pemilik asli yang berhak mendaftarkan NIK dan No. KK (Permen 21 2017). Sebagaimana diketahui, nomer-nomer tersebut sangat mudah diketahui dengan berbagai cara yang saya tidak bisa jelaskan disini. Sehingga siapa saja dapat menggunakan nomer identitas tersebut untuk registrasi kartu selular prabayarnya.
  • Poin no. 1 diatas berpotensi merugikan pemilik nomer identitas yang asli, dapat dibayangkan jika NIK seseorang didaftarkan oleh orang lain yang kebetulan adalah pelaku kejahatan.
  • Dan kalaupun pemilik NIK aslli telah mendaftarkan pada nomer selular miliknya, potensi penyalahgunaan NIK tersebut masih terbuka dikarenakan satu NIK dapat didaftarkan ke 3 nomer seluler yang berbeda baik pada provider yang sama atau berbeda (Permen 12 2016 Pasal 11)
  • ¬†Maka untuk mencegah penyalahgunaan NIK dan No. KK, maka pemiliknya harus melakukan beberapa langkah:
    – Pemiliknya harus menjadi First comer/ registrant, orang pertama yang mendaftarkan nomer tersebut.
    – Harus mendaftarkan ke-3 nomer selular prabayar, atau kalau permen 12 2016 Pasal 11 ayat 1 ini dimaknai lain, maka seseorang harus mendaftarkan ke 3 x (jumlah provider seluler di indonesia)
  • Pertanyaannya, apakah semua masyarakat dapat melakukan hal pada poin ke 4 diatas? Jika jawabannya tidak, maka bersiaplah sewaktu-waktu kita “dicyduk” dengan berbagai kasus yang dilakukan orang yang menyalahgunakan No. Identitas kita. Dan menerima “cidukan” pada kasus yang tidak kita lakukan, akan menjadi pengalaman yang sangat tidak menyenangkan, bukan begitu???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *