Literasi Digital; antara Tren dan Pendidikan

January 21, 2018

Khusus di Indonesia, pemanfaatan sumberdaya digital untuk pendidikan; sudah terdengar diterapkan beberapa lembaga pendidikan sejak awal tahun 2000-an bahkan beberapa tahun sebelumnya. Sayangnya, implementasinya sampai saat ini dirasakan masih terkesan coba-coba dan cenderung berorientasi hanya mengikuti tren. Bahkan pada beberapa lembaga pendidikan, pengadaan sumberdaya digital hanya untuk ornamen dan sekedar memberi nilai tambah formalistis dalam rangka mengejar poin akreditasi. Beberapa program pemerintah yang berjalan terkait hal ini juga tidak begitu detil dan berkelanjutan, sehingga justru hanya menjadi beban terhadap anggaran negara dengan hasil yang minim. Orientasi dan realitas ini memberi nilai tersendiri terhadap peran dunia digital dalam pendidikan bagi masyarakat kebanyakan. Semangat publik dan demand pemanfaatan sumberdaya digital untuk pendidikan dapat dirasakan jauh dari harapan.

Sebagaimana telah diketahui dan dirasakan, penggunaan teknologi digital termasuk didalamnya internet dan perangkat mobile (smartphone dan tablet) oleh masyarakat semakin hari semakin masif dan merata. Diantara pemicunya adalah semakin berkembangnya teknologi komputasi dan jaringan, inovasi efesiensi tenaga, bahan, bentuk, ukuran, kapasitas, fitur dan fungsi yang berimbas pada semakin mudah dan murahnya kebutuhan digital tersebut diperoleh. Maka seyogyanya, peluang ini dapat semakin diandalkan untuk turut mengakomodir kebutuhan dunia belajar mengajar, dunia pendidikan kita. Kecenderungan dan antusiasme masyarakat terhadap layanan yang telah terdisrupsi secara digital utamanya pada sektor bisnis, hiburan bahkan transportasi, sudah saatnya, secara serius juga diarahkan untuk diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Arahan ini tentunya tidak saja berlaku bagi peserta didik namun juga bagi pendidik, tenaga kependidikan, pengelola lembaga pendidikan dan tidak ketinggalan orang tua.

Kominfo merilis bahwa 98 persen dari anak-anak dan remaja tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet aktif[2]. Lebih jauh, jika kita mengestraksi data hasil survey APJII tentang penetrasi dan perilaku pengguna internet di Indonesia ditemukan bahwa dari 143 juta jiwa pengguna internet di Indonesia, hanya sekitar 28.27 persen yang memanfaatkan fasilitas digital tersebut untuk aktivitas edukasi. Sebagian besar lainnya, hanya termanfaatkan sebagai gaya hidup (64,03%). Sungguh ironi, mengingat pendidikan tidak mengenal batas ruang dan waktu, maka seharusnya pendidikan juga harus mendapat jatah yang dominan dalam penggunaan internet yang juga tidak mengenal prinsip batas ruang dan waktu. Faktanya, ruang dan waktu digital yang tersedia selama 24 jam dalam sehari masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal; peserta didik kita mayoritas masih lebih cenderung memanfaatkan sumberdaya digital yang dimilikinya untuk orientasi hiburan, sementara para pendidiknya masih banyak disibukkan membaca dan membalas status dan pesan di sosial media.

Standarisasi Literasi digital

Salahsatu yang menyebabkan gambaran kondisi ril diatas adalah tidak adanya pemberlakuan secara ketat standar literasi digital khususnya bagi pihak yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar dan penilaian. Pengetahuan dan kemampuan digital masyarakat menjadi liar dan tidak terpola dengan baik, karena hanya diperoleh melalui ruang bebas yang kadang tidak terencana dan belum mencerahkan. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa literasi digital hanya sebatas pengetahuan dan kemampuan mengoperasikan perangkat digital. Sebagian lagi menganggap, bahwa wawasan dan skil ini hanya diperuntukkan untuk siswa di sekolah kejuruan atau mahasiswa yang belajar ilmu komputer (computer science). Paradigma inilah yang perlu diubah. Seharusnya, selain dipahami sebagai pengetahuan teknis sekaligus skillset dalam mengoperasikan sumberdaya digital, literasi digital juga harus dipahami sebagai pengarah. Bagaimana seharusnya pengetahuan dan skillset tersebut dapat digunakan untuk tujuan tertentu secara efektif, efesien dan beretika.

Sebagai contoh, beberapa sekolah di negara-negara maju, membelakukan standar kecepatan mengetik mulai dari peserta didik di sekolah dasar. Selain memberikan petunjuk teknis yang sistematis, mereka juga diarahkan agar skil mengetik dengan cepat yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, sehingga dapat meminimalisir tindakan penyelesaian tugas hanya dengan menggunakan mouse (copy/ paste). Berbeda di negara kita, banyak sekolah yang tidak peduli dengan kemampuan mengetik siswanya. Yang terjadi kemudian adalah, para siswa bahkan mahasiswa lebih cenderung menyelesaikan tugasnya dengan jalan pintas. Mulai dari mendelegasikan tugasnya untuk diselesaikan oleh jasa pengetikan, kerabat atau hanya memindahkan apa yang sudah dikaryakan orang sebelumnya secara serampangan.
Pemahaman dan penguasaan teknis tentang literasi digital harus diberikan secara detail dan terarah, bahkan sampai hal yang paling sederhana dan terkecil sekalipun, semisal pengenalan, penggunaan ikon disertai dengan arahan akan dampak ikon tersebut ketika terjadi penggunaan yang salah.

Literasi Berhenti pada Ketertarikan

Akhir-akhir ini publik, utamanya para penikmat teknologi digital mendapatkan beberapa sajian terminologi baru untuk menggambarkan kemajuan peradaban manusia kini dan akan datang. Revolusi industri 4.0 dan Education 4.0, topik yang lagi hangat didengungkan dan disebut-sebut pada setiap kesempatan, tidak ketinggalan untuk topik pembahasan dalam kaitannya dengan dunia pendidikan.

Padahal jika diamati, banyak istilah-istilah lampau terkait revolusi industri belum tuntas dibahas apalagi diimplementasikan. Digital citizenship, E-Learning, Community Informatics , smart-thing (city, school, society dll) contohnya, kini hanya menjadi korban ketertarikan dan pemanis ruang diskusi dan seminar belaka. Jika demikian dapat dipastikan Revolusi Industri juga akan bernasib sama, istilah ini hanya akan berakhir pada tataran ketertarikan yang tidak pernah terealisasi dengan baik.

Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah melalui kebijakan yang dikeluarkan, sudah menerapkan ujian berbasis komputer atau yang dikenal dengan UNBK. Sayangnya, kebijakan tersebut lagi-lagi tanpa didahului oleh kesiapan literasi digital yang baik. Siswa, pengajar dan pengelola pendidikan dihadapkan dengan penggunaan teknologi digital pada even yang sangat menentukan (ujian). Sementara sebelumnya mereka jarang diarahkan untuk membiasakan diri dengan teknologi tersebut dalam proses belajar mengajar dan penilaian yang dilakukan sehari-hari di sekolah.

Literasi Berhenti pada Wawasan

Ancaman dampak negatif dari penggunaan perangkat digital pada sisi lain semakin jelas didepan mata, sementara hanya segelintir pihak yang sadar, berfikir dan bertindak nyata untuk menyeimbangi ancaman tersebut dengan memanfaatkannya secara sistematis untuk tujuan pendidikan. Sayangnya, dukungan lingkungan yang diharapkan dapat menyemangati beberapa gerakan ini faktanya sangat minim. Ruang-ruang publik, sangat sepi mengupas dan menyosialisasikan keberadaan ancaman sekaligus tantangan yang dihadapi pada era digital. Padahal masalah ini adalah nyata dan tentunya akan sangat menentukan kualitas pendidikan kita sekarang dan yang akan datang.

Untuk memberikan pemahaman kepada stakeholder, bahwa persoalan merupakan tuntutan dan kebutuhan era informasi kelihatannya juga belum memberikan hasil yang signifikan. Salahsatu penyebabnya dikarenakan pihak pengambil kebijakan tidak pernah menyentuh hal yang paling fundamental yang harus dipahami sekaligus dibenahi untuk menyatakan bahwa pendidik dan peserta didik kita, mau tidak mau harus siap, mampu dan terlibat secara aktif dalam model pembelajaran digital. Beberapa hal fundamental yang dimaksud diantaranya adalah tidak adanya standar minimal bagi siswa, guru dan manajemen lembaga pendidikan dalam memahami dan menginplementasikan literasi digital. Sehingga pemerolehan, pemahaman dan pemanfatan skil digital menjadi liar dan salah arah.

Pada sisi lain, dunia pendidikan kita juga terkesan tidak mendapat tempat yang begitu nyata dalam dinamika kecenderungan digital masyarakat yang terus semakin tidak bisa terpisahkan dari perangkat digital utamanya perangkat mobile (smartphone dan tablet). Sementara segmentasi lain dalam kehidupan masyarakat, baik itu keuangan, ekonomi, hiburan, bisnis bahkan transportasi telah sedemikian rupa terdisrupsi model dan prosesnya secara digital, dan nyatanya masyarakat dapat hadir dan berperan aktif dalam pemanfaatannya. Nampaknya, pihak yang berwenang di negeri ini belum menemukan ramuan dan formulasi yang pas dan paten untuk mendigitalisasi model dan proses pendidikan dengan hasil yang nyata.

 

Memilih Platform

Blended Learning Sebagai Langkah Awal

Secara sederhana blended learning dapat diartikan sebagai penerapan dual mode (model ganda) dalam proses belajar mengajar baik formal maupun nonformal. Pakar dalam dunia pendidikan semua sepakat bahwa pendidikan yang baik, mutlak membutuhkan tatap muka dalam dunia nyata antara pendidik dan peserta didik. Blended Learning, bersifat memadukan antara tatap muka dalam dunia nyata dan digitalisasi model dan proses pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya digital, baik yang dimiliki oleh lembaga pendidikan, pendidik, peserta didik, orang tua dan masyarakat luas.

Ketika revolusi perubahan model dan proses belajar secara digital dirasa belum saatnya dapat diterapkan secara masif pada konteks lokal, maka blended learning hadir menjadi solusi yang mengawali langkah digitalisasi ini. Walaupun bertahap harus dilakukan secara serius, dengan pola yang terencana, terstruktur dan terukur. Dalam menjalankan setiap proses pembelajaran, pengajaran dan penilaian digital termasuk dengan menggunakan metode Blended Learning ini dibutuhkan sebuah platform YANG TEPAT! Tepat yang dimaksud, pada sisi platform itu sendiri setidaknya memiliki beberapa variabel diantaranya: Terjangkau, familiar dan mudah digunakan serta tentunya memiliki kualifikasi yang handal, ketersediaan yang terus menerus, aman dan dapat terintegtasi dengan sistem lain (internal maupun eksternal). Juga yang paling penting adalah ketersediaan layanan dokumentasi, diskusi dan aduan yang baik.

Ketika platform telah dipilih, maka penguasaan pemanfaatan oleh seluruh elemen (utamanya manajemen, pengajar, pelajar) dan konsistensi dalam penggunaannya harus menjadi prioritas untuk segera direalisasikan.

 

BERSAMBUNG ….


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *