E-Learning, Begal dan Masyarakat Informasi

July 12, 2018

Kurang lebih 12 tahun sudah, menjalankan e-learning dengan segala modelnya dalam interaksi saya dengan siswa/mahasiswa pada proses belajar mengajar. Dari e-learning kecil-kecilan buatan sendiri, berbasis CMS, LMS sampai pada cloud, social e-learning, enterprise e-learning, dan terakhir perlahan-lahan dan akhir-akhir ini tidak ketinggalan memperkenalkan penggunaan MOOCs  pada beberapa pihak yang antusias dalam menjelajah sensasi baru dalam dunia belajar mengajar di era informasi yang serba terbuka. Tujuan saya tidak lain adalah, agar peserta didik dan kita semua, dapat belajar sendiri mengembangkan ilmu dan pengetahuannya secara bebas. Bebas, karena bagi saya, tugas utama pendidik di era ini sebenarnya, bukan sebagai penyedia ilmu, akan tetapi lebih kepada pengarah, informan, konduktor yang dapat memberi arah yang benar bagaimana peserta didik dapat memperoleh keunggulan baik dalam menemukan sumber ilmu, memperlajari dan tentunya mengamalkan ilmunya.

Modifikasi Drupal untuk keperluan E-Learning (2007 – 2008)

Bagi peserta didik, utamanya pada tingkat atas dan mahasiswa, bukan saatnya lagi untuk diajarkan 1 + 1 itu 2 apalagi harus diketikkan, dicetak dan diserahkan kehadapan mereka tulisan yang berisi 1 + 1 = 2, tapi saatnya mengarahkan mereka bahwa di era informasi yang begitu luas ini, jangankan mempelajari 1 + 1, bahkan anda dapat dengan mudah memperoleh informasi tentang 1 + 2, 2 + 3 dan seterusnya hanya dengan memahami dan mendalami sumber yang tepat. Memperkenalkan, menghantar, mengarahkan dan tentunya menyertai dan mengevaluasi peserta didik dalam menemukan sumber yang tepat dan adaptif bagi mereka, inilah sesungguhnya yang menjadi tugas para pendidik “zaman now”.

Penggunaan Microsoft Teams untuk E-Learning – Collaburation (2017 – 2018)

Biasanya, menjelang masa akhir perkuliahan, beberapa mahasiswa yang dulunya tidak peduli dengan tugas-tugasnya, kini mulai kelabakan. Bahkan diantara mereka ternyata ada yang telah melupakan akun loginnya pada aplikasi kolaburasi yang sedang digunakan. Kasus ini tentu akan membuat extra job bagi kami sebagai pengajar sekaligus Admin untuk melayani mereka yang mempertanyakan kembali akunnya. Padahal jauh hari saya telah menyadari ini dan memberikan mereka solusi yang lupa akun dan password, dapat memperoleh akun dan passwordnya kembali secara mandiri melalui nomor ponsel mereka. Namun bukan mahasiswa kalau tidak banyak akal. Karena berbagai alasan, mereka lebih senang langsung minta diresetkan akun dan passwordnya melalui kewenangan Admin. Walaupun tidak semua saya layani, tergantung alasan yang mereka kemukakan. Dan dari 10an mahasiswa yang mengadu lupa/ kehilangan akun dan passwordnya, 3 orang diantaranya memiliki alasan yang sama, yakni mereka dibegal dan hp yang mereka gunakan ikut menjadi korban. Antara kasihan dan tidak percaya, saya lebih memilih untuk memudahkan mereka.

Pembegalan yang terjadi terhadap tiga mahasiswa saya ini tentunya sungguh merugikan mereka, namun ada kerugian yang lain yang sebenarnya mereka alami, yakni mengapa sampai sekarang mereka belum memahami bagaimana melakukan reset terhadap akun mereka melalui fasilitas dan sistem yang sudah tersedia. Sementara mereka tau bagaimana cara mengembalikan akun Wha*s*p mereka secara lancar. Dalam hal ini mereka sebenarnya telah dibegal 2 kali. Dibegal oleh pembegal kriminal secara fisik dan dibegal oleh korporasi media sosial secara psikologis. Pembegalan psikologis ini membuat mereka mampu dan lincah dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada termasuk yang dimilikinya untuk kepentingan sosial media, hiburan, belanja dan lainnya, namun seakan kehilangan akal untuk memanfaatkan sumberdayanya untuk kebutuhkan pendidikan.

Pada gilirannya, untuk fasih dalam melakoni model pembelajaran yang terkesan “aneh” seperti diatas, peserta didik pada tingkat atas dan mahasiswa seharusnya sudah memiliki “standar minimal” sebagai generasi yang hidup dalam masyarakat informasi pada ketiga aspek pendidikan (kognitif, afektif, psikomotorik). Di Kanada contohnya, anak-anak pra sekolah telah diberikan pemahaman tentang fungsi-fungsi ikon dan papan ketik secara sederhana. Bahkan beberapa sekolah-sekolah di negara-negara maju, anak didik di sekolah dasar sudah diarahkan untuk dapat mengetik minimal 20 – 28 WPM, tidak sampai disitu anak-anak juga difokuskan untuk menggunakan skill mengetiknya untuk menyelesaikan tugas-tugas pelajaran lainnya. Di beberapa sekolah maju di eropa, sudah mengajarkan privasi dan sekuritas data dan informasi, beberapa diantaranya bahkan tidak membolehkan siswanya untuk menggunakan facebook, sebagai gantinya mereka mengaktifkan penggunaan sosial media yang lebih ramah, edukatif dan kolaburatif yang langsung diawasi oleh lembaga pendidikan terkait, seperti Ya**er dan lainnya.
Standar-standar ini adalah bagian kecil yang sebaiknya diajarkan dan ditanamkan sejak dini dari pendidikan pra sekolah, dasar sampai pendidikan menengah pertama dan tentunya terus dipertajam pada jenjang-jenjang pendidikan berikutnya.

Sayang, pengetahuan dan skil tertentu yang menjadi standar pembelajaran di era informasi, seperti yang kami gambarkan diatas, dibegal oleh kepentingan bisnis korporasi digital; game, commerce, entertainment dan media sosial. Serasa kepentingan edukasi pada dunia digital hanya mendapat porsi 0.01 dari 100% ketuntasan belajar siswa di lembaga pendidikan. Dampaknya nyata, peserta didik kita lebih tahan berlama-lama menonton video tidak mendidik, berjam-jam menggoyangkan jari diatas kanvas game virtual, sementara jika mereka diberikan tugas mengetik karya, mencari referensi ilmiah, matanya akan cepat lelah, jarinya terasa lumpuh, otak tidak bekerja dan sebagainya. Fenomena ini adalah pemandangan sehari-hari yang sangat umum dan terkesan dibiarkan, meskipun hampir semua menyadari bahwa kondisi ini sangat merugikan utamnya bagi proses pendidikan dan tentunya bagi kualitas masa depan generasi.

Tidak sampai disini, pembegalan yang terjadi seakan diperparah dengan ketiadaan kebijakan politik pendidikan yang dapat menjadi “shield” berbagai tantangan era informasi, ketidakpahaman dan rasa pesimistis pengambil kebijakan atas persoalan digital yang dihadapi, serta minimnya digital learning experiences yang dirasakan generasi calon pendidik dan pendidik kita sejauh ini. Menjadikan dampak dan kerugian yang ditimbulkan atas persoalan yang dihadapi, ternyata jauh lebih besar daripada apa yang disadari dan disaksikan secara nyata. Menjadi masa bodoh dan tidak menganggap penting standar yang harus dimiliki para peserta didik terkait identitasnya sebagai masyarakat informasi, akan mencetak generasi yang terus-menerus berposisi korban dan selamanya menjadi objek atas kerasnya perang kepentingan korporasi, elit, dan konspirator global yang menggunakan teknologi informasi sebagai medan utamanya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *